Minggu, 24 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 

Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran



Pengaruh Patrap Triloka terhadap Pengambilan Keputusan

Pada tahun 1922, R.M. Suwardi Suryaningrat yang lebih kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa). Beliau pun mencetuskan asas-asas pendidikan yang kita kenal sebagai Patrap Triloka. Patrap Triloka terdiri atas tiga semboyan, yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan dalam dunia pendidikan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”.

Disadari atau tidak, ketiga nilai tersebut berpengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai Ing ngarsa sung tuladha, memberikan pengaruh nyata terhadap peran guru sebagai teladan di garis depan. Selaras dengan nilai ini, seorang Calon Guru Penggerak (CGP) hendaknya menjadi teladan dalam menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Bentuk nyata pengaruh nilai ini adalah sosok CGP yang mampu menggerakkan ekosistem ke arah lebih baik.

Hal ini juga berlaku pada nilai Ing madya mangun karsa. Nilai ini mengingatkan bahwa seorang CGP harus mampu membangun motivasi diri dan orang lain untuk melakukan pengambilan keputusan yang tepat. Berlandaskan nilai ini seorang CGP bisa berbagi semangat untuk terus bergerak. Gerakan yang dilakukan berupa ajakan kepada guru-guru lain untuk bersama-sama bergerak. Di sinilah nilai ini memengaruhi jiwa kolaboratif pada diri CGP dan guru lainnya.

Sedangkan nilai Tut Wuri Handayani memengaruhi CGP dalam hal memberikan dukungan. Seorang CGP selayaknya menjadi pendukung dalam penerapan pengambilan keputusan dengan tepat dalam ekosistem pendidikan. CGP bisa memberikan dukungan berupa ide, gagasan, dan masukan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, juga bisa berupa pemberian opsi trilemma berupa ide kreatif dalam pengambilan keputusan. Sudah seharusnya, CGP senantiasa tergerak untuk menemukan ide kreatif ini.


Pengaruh Nilai Diri terhadap Prinsip-prinsip Pengambilan Keputusan

Guru penggerak sejatinya hanyalah status. Pada dasarnya setiap individu guru adalah penggerak. Setidaknya bagi dirinya sendiri. Disadari atau tidak, setiap guru sebenarnya memiliki nilai-nilai sebagai guru penggerak. Di dalam guru ada nilai-nilai tertanam sejak pertama memutuskan menjadi seorang pendidik. Dalam perjalanannya nilai-nilai itu akan semakin terasah. Tindakan untuk mengembangkannya pun semakin terarah. Namun, tidak semua bisa menerapkan nilai-nilai tersebut. Tentu masing-masing memiliki alasannya.

Nilai-nilai dalam diri kita sebagai guru besar pengaruhnya terhadap pengambilan suatu keputusan. Nilai inovatif dalam diri guru akan menjadi dasar yang baik dalam menentukan berbagai opsi pengambilan keputusan yang dilakukan. Nilai kolaboratif akan memengaruhi kita dalam memetakan aktor yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Tidak terkecuali dengan nilai mandiri. Nilai ini akan menjadi dasar bagi seorang guru untuk menentukan inisiatif berdasarkan prinsip pengambilan keputusan. Nilai ini juga akan menjadikan seorang guru bisa berpikir cepat dan tepat dalam menghadapi situasi dilema etika yang menjadi alasan pengambilan keputusan.

Demikian halnya dengan nilai reflektif. Nilai ini akan berpengaruh besar terhadap kemampuan seorang guru melakukan refleksi atas keputusan yang diambil. Refleksi ini akan membuat guru menjadi tahu benar tentang keputusannya sudah tepat atau belum. Muara dari semua nilai itu adalah berpihak pada murid. Nilai dalam guru ini akan memengaruhi sikap dalam menentukan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang terbaik dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi murid.

Nilai-nilai tersebut pada akhirnya akan disadari dan dipahami sebagai kesatuan utuh dalam diri guru, terutama CGP. Hal tersebut tentu tidak lepas dari peran pendamping dan fasilitator.


Coaching

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

Kaitan Kegiatan Terbimbing dengan Pengambilan Keputusan

Dalam pengujian pengambilan keputusan, bimbingan dalam bentuk coaching sangat membantu. Peran pendamping dan fasilitator selama proses pembelajaran merupakan hal baik bagi CGP untuk bisa menggali potensi diri dalam melakukan pengambilan dan pengujian keputusan dengan tepat. Melalui diskusi dua arah, hal-hal atau pertanyaan terkait pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan baik.

Sebagai contoh saat saya mengambil keputusan mengubah rencana jangka pendek yang telah disusun, pendamping mengarahkan saya untuk bisa menemukan potensi saya. Hingga akhirnya dari proses coaching tersebut saya menyadari, bahwa keputusan yang saya ambil sudah tepat. Hal ini menurut saya peran pendamping dan fasilitator dalam pengambilan keputusan sangat efektif. Termasuk di dalamnya adalah diskusi terkait studi kasus yang terjadi di sekolah.


Pembahasan Studi Kasus dan Nilai-nilai yang Dianut Pendidik

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral dan etika berkaitan erat dengan nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Moral dan etika adalah satu kesatuan merupakan nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Moral dan etika tetaplah harus tertanam sebagai nilai seutuhnya pada pribadi pendidik. Pembahasan studi kasus yang fokus pada moral dan etika merupakan langkah awal bagi pendidik untuk mengenali nilai-nilai dalam diri. Melalui pembahasan studi kasus pendidik bisa sekaligus mengeksplorasi nilai-nilai lainnya dalam diri antara lain peduli dan tanggung jawab. Selain itu, kedua nilai ini akan memberikan kemudahan bagi guru untuk membedakan bujukan moral dan dilema etika. Dalam studi kasus pengambilan keputusan, seorang pendidik harus memahami terlebih dahulu perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika.

Seorang pendidik harus memastikan terlebih dahulu, apakah studi kasus yang di dalamnya adalah benar vs benar atau benar vs salah. Jika studi kasus yang dianalisis adalah benar vs benar, maka pendidik harus menetapkan langkah pengambilan keputusan. Hal ini karena bisa dipastikan kasus tersebut termasuk dilema etika. Sedangkan apabila kasus tersebut benar vs salah berarti kasus tersebut merupakan bujukan moral. Dalam hal ini, pendidik harus memiliki nilai ketegasan dalam mengambil keputusan.


Pengambilan Keputusan Berdampak pada Lingkungan

Pengambilan keputusan yang tepat berpegangan pada kepentingan terbaik bagi semua pihak. Sehingga tidak ada pihak-pihak yang tersakiti akibat pengambilan keputusan tersebut. Tentunya bukan hal yang mudah. Membutuhkan upaya yang terencana dan sistematis. Seorang pendidik terlebih dulu harus menyusun perencanaan pengambilan keputusan. Perencanaan berawal dari penulisan kasus secara detail. Selanjutnya adalah melakukan analisis berdasarkan paradigma, prinsip, dan langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Seorang pendidik memilih keputusan berdasarkan analisis dengan hasil tepat. Apabila melalui tahap terakhir, yaitu refleksi ternyata tidak tepat, pendidik bisa saja mengubah keputusan yang akan diambilnya. Selain itu, bisa juga menggunakan opsi trilemma yang merupakan cara kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya sebagai keputusan.

Jika pengambilan keputusan dilakukan dengan tepat, maka kondusivitas ekosistem sekolah akan tetap terjaga. Hal ini karena tidak adanya konflik berkepanjangan setelah keputusan diambil. Ekosistem sekolah pun tetap aman dan nyaman tanpa gejolak yang berarti akibat keputusan yang diambil. Semua pihak yang terlibat akan menerima hasil keputusan dengan hati terbuka dan lega.

Kesulitan dalam Pengambilan Keputusan

Melakukan hal baru tidak selamanya mengalami kemudahan. Ada kalanya di tengah perjalanan menemukan kesulitan. Dengan perencanaan yang tepat akan memberikan kemudahan dalam mengambil keputusan. Upaya meminimalisirnya adalah dengan melakukan pemetaan kesulitan yang akan dihadapi. Tujuannya adalah untuk menemukan strategi penyelesaian saat mengalami kesulitan. Dari pemetaan kesulitan, setidaknya ada gambaran diperoleh sebagai berikut:

Pertama, belum adanya kesamaan pemahaman tentang bujukan moral dan dilema etika. CGP bisa melakukan upaya membumikan pemahaman tersebut melalui diseminasi dan teladan. Dalam hal ini CGP bisa melakukan diseminasi dan pelatihan kepada sejawat. Sedangkan sebagai teladan, CGP membiasakan diri dengan menerapkan hal tersebut dalam pengambilan keputusan.

Kedua, pengambilan keputusan berdasarkan 3 paradigma, 4 prinsip, dan 9 langkah belum menjadi budaya positif di sekolah. Upaya mengatasinya melalui diseminasi materi pengambilan keputusan kepada sejawat. Langkah ini untuk menciptakan kesamaan pemahaman dan kesadaran menerapkan. Hingga pada akhirnya akan terus tumbuh menjadi sebuah budaya positif di sekolah.

Pengaruh Pengambilan Keputusan dengan Pengajaran yang Memerdekakan Murid

Pengambilan keputusan sangat berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid. Bentuk pengaruh nyata terlihat dari pengambilan keputusan terkait proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Keputusan dalam menentukan bentuk-bentuk diferensiasi yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Selain itu juga terkait dengan keputusan untuk mengembangkan proses pembelajaran berpihak pada murid.

Bukan saja pada tingkat guru dalam proses pembelajaran. Namun, juga pada tataran pengambilan kebijakan sekolah. Pihak sekolah harus memikirkan matang-matang dalam menentukan kebijakan terkait pendidikan murid. Sekolah menjadikan murid sebagai subjek pendidikan adalah dasar dalam mengambil keputusan. Beberapa pertimbangan bisa dilakukan sekolah sebelum mengeluarkan keputusan.

Seorang CGP bisa menjadi pemberi masukan pada pihak sekolah. Terutama terkait kebijakan menyangkut kepentingan terbaik bagi murid. Hal ini menunjukkan bahwa seorang CGP bisa memengaruhi pengambilan keputusan. Sekaligus juga menggiring dan mengarahkan keputusan sekolah untuk menetapkan pengajaran yang memerdekakan murid. Dalam hal ini peran sebagai pemimpin pembelajaran sangat dibutuhkan.

Pengambilan Keputusan dan Masa Depan Murid

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus memahami paradigma pengambilan keputusan. Hal ini akan membantu mempermudah dalam menentukan prinsip dan langkah-langkah pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang dilakukan seorang pemimpin pembelajaran harus berpihak pada murid.

Ada hubungan erat antara keputusan masa sekarang dengan masa depan murid. Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada perubahan murid ke depannya. Bisa dikatakan bahwa masa depan murid bisa saja tergantung dari keputusan yang diambil guru saat ini.

Contoh sederhana pada saat kita membuat keputusan untuk tidak menaikkan murid karena terkendala regulasi atau aturan sekolah. Bisa jadi saat itu kita menjadi pemutus harapannya menjadi lebih baik di masa depan. Itu adalah contoh kasus yang sering kita temui di lapangan. Contoh kasus yang bisa jadi menjadi kunci masa depan bagi murid kita.

Sebagai individu kita tidak pernah tahu akan menjadi apa murid-murid kita kelak. Kita juga tidak pernah tahu menjadi seperti apa murid-murid kita. Jika saat ini kita mengambil keputusan salah, bisa jadi akan menghambat langkahnya mencapai cita-cita murid. Atau juga bisa jadi dengan mengambil keputusan tepat, maka ke depannya kita akan memberikan hasilnya. Bisa saja murid berubah menjadi lebih baik berkat keputusan yang kita ambil tentangnya. Bisa juga dengan keputusan kita yang tepat saat ini murid bisa menemukan potensi diri yang tersembunyi. Tentu hal tersebut akan menjadi berkah tersendiri.

Oleh karena itu penting mengubah mindset kita, bahwa proses pembelajaran sejatinya pengambilan keputusan yang memerdekakan murid.

Kesimpulan Akhir

Kesimpulan uraian di atas adalah, bahwa kita harus mempelajari pengambilan keputusan dengan tepat dalam pengajaran yang memerdekakan anak demi kebaikan mereka di masa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk bisa menghadirkan masa depan murid yang lebih baik, guru juga perlu mempertimbangkan bentuk diferensiasi dan sosial emosional murid dalam pengambilan keputusan. Tujuannya agar keputusan pengajaran yang kita lakukan sesuai kebutuhan mereka saat ini dan masa depan.

Selain itu, sebagai seorang guru sudah seharusnya mengubah mindset, bahwa pengajaran yang dilakukan adalah bentuk dari coaching. Dalam hal ini guru harus memberikan bimbingan agar murid bisa mengambil keputusan terbaik bagi kehidupannya di masa kini dan masa depan. Dengan demikian, pengambilan keputusan dalam pengajaran yang memerdekakan murid haruslah benar-benar berpusat pada murid. Hal ini sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.


Minggu, 06 Februari 2022

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF CALON GURU PENGGERAK

 MENERAPKAN 3S (SENYUM, SALAM, SAPA) SEBAGAI BUDAYA POSITIF DI SD NEGERI TROMBOL 1 MONDOKAN

   ARLANDI DWI KUNCORO, S.Pd

CGP KABUPATEN SRAGEN

ANGKATAN 4


1. LATAR BELAKANG

Mekolah menjadi tempat bagi para guru, murid, serta setiap lapisan komponen sekolah untuk merasakan atmosfer positif yang membangun dan memperkuat karakter. Ketika sekolah sudah memiliki budaya positif dengan menerapkan disiplin positif, guru akan bersemangat untuk bekerja, karena mereka melihat gambaran yang lebih besar dan murid berada dalam posisi yang lebih baik (secara mental dan emosional) untuk belajar. Untuk menciptakan budaya positif di sekolah, maka dimulai dari kelas.

Aksi nyata budaya positif yang dilakukan oleh calon guru penggerak adalah menerapkan budaya 3S (senyum, salam, sapa) di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, tiga hal tersebut dianggap penting untuk diterapkan di SD Negeri Trombol 1 Mondokan Kabupaten Sragen, dan dijadikan sebagai budaya positif sekolah untuk memperkuat karakter Profil Pelajar Pancasila.

2. TUJUAN AKSI NYATA

  •        Menumbuhkan dan memperkuat karakter siswa melalui budaya positif di sekolah.
  •        Mengembangkan inisiatif yang tinggi dalam diri siswa.
  •        Menumbuhkan rasa saling menghargai serta menghormati diri sendiri dan orang lain.

3. DUKUNGAN YANG DIPERLUKA

  • KELUARGA

Sebagai tempat pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.

  • SEKOLAH

Sebagai tempat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa melalui program yang ada di sekolah.

  • MASYARAKAT
Sebagai tempat eksplorasi dan eksistensi potensi kemandirian yang dimiliki anak.

4. DESKRIPSI AKSI NYATA
Aksi nyata dilakukan dalam linimasa 4 minggu.
Tahap 1:
Tahap perencanaan aksi nyata. Pada tahapan ini calon guru penggerak melakukan pembuatan rancangan kegiatan aksi nyata.



Tahap 2:

Pada tahap ini calon guru penggerak melakukan koordinasi dengan kepala sekolah serta teman sejawat. Calon guru penggerak juga melakukan sosialisasi kepada peserta didik.





Tahap 3:

Tahap pelaksanaan aksi nyata berupa kegiatan pelaksanaan budaya 3S(senyum, salam, sapa) di lingkungan SDN Trombol 1. Penerapan budaya positif sekolah melalui kesepakatan kelas yang memasukan 3S (Senyum, salam, sapa) merupakan upaya mewujudkan kepedulian murid dan guru untuk pembentukan karakter. Melalui kesepakatan kelas yang terbentuk dapat mengikat hubungan antara murid dan guru. Kesepakatan kelas  sebagai budaya posistif sekolah, sebagai representatif kedisiplinan dan kepedulian warga sekolah sebagai makhluk intelektual yang berbudi.

5. HASIL AKSI NYATA

Hasil dari aksi nyata 1.4 tentang budaya positif  membentuk kesepakatan kelas dan menerapkan perilaku 3S  antara lain:

  •       Terjalinya komunikasi positif antara peserta didik dan guru dalam bermusyawarah membentuk kesepakatan kelas.
  •          Dihasilkannya kesepakatan kelas dengan menerapkan 3S menjadi budaya positif sekolah.
  •       Timbulnya kesadaran baik peserta didik dan guru  untuk menjalankan kesepakatan kelas.

6. REFLEKSI AKSI NYATA

Sebagai Calon Guru Penggerak saya telah memberikan sosialisasi cara menyusun kesepakatan kelas dan menginisiasi untuk membuat kesepakan kelas tersebut. Namun, dalam proses pelaksanaan penyusunan kesepakatan kelas  sebagai bentuk budaya positif sekolah, tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan harapan, hal dikarenakan masih ada kelas yang belum membuat kesepakatan kelas, dikarenakan beberapa alasan antara lain kesibukan, keterbatasan guru serta waktu saat PTM terbatas.

Sedangkankan untuk menerapkan 3S (Senyum, Salam, Sapa) sudah masuk menjadi bagian kesepakatan kelas dan mulai diterapkan sebagai budaya posistif, meskipun dalam pembiasaan tersebut masih ada hal yang terlupakan. Namun, sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) meyakini bahwa hal  baru tersebut membutuhkan proses,  untuk memulai, melaksanakan dan menjadikannya sebagai budaya positif.

Dalam menyusun kesepakatan kelas peserta didik menunjukkan respon yang positif dan sikap antusias sehingga terjadi komunikasi dua arah, meskipun masih ada peserta didik yang kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya. Keterampilan dan ide atau gagasan yang dikemukakan oleh  peserta didik telah menunjukkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai profil Pelajar Pancasila. Semakin terbiasanya peserta didik berperilaku positif semakin kuat nilai budaya berkarakter melekat dalam diri mereka dan guru teruslah menuntun dan memberi teladan.

7. RENCANA PERBAIKAN

  •       Konsisten dalam melaksanakan budaya positif baik di kelas dan sekolah.
  •       Lebih mengenal karakteristik siswa secara psikologi.
  •        Meningkatkan interaksi antara guru dan murid di luar jam pembelajaran.
  •            Melakukan refleksi dan evaluasi secara rutin dan berkala.